Sekolah Alam Pelopor

 
 
You are here:: Home
 
 
SD ALAM PELOPOR
Ditulis oleh Admin SD Apel   
Selasa, 24 April 2012 01:01

SD Alam Pelopor, Rancaekek – Bandung

Anak pertama saya, Annisa, menuntut ilmu dengan bermain di Sekolah Dasar Alam Pelopor. Letaknya di Jalan Kaktus Raya Rancaekek Kabupaten Bandung. Sekolah alternatif di tengah sawah dengan kurikulum unggulan Pendidikan Agama Islam, science, english, dan matematika.

Awalnya, murid-murid di sekolah ini adalah anak dari pengajar. Terdiri dari 6 kelas, mulai dua tahun lalu ada kelas A dan B untuk masing-masing tingkatan. Saat ini baru sampai kelas 2. Sudah meluluskan satu angkatan dan angkatan kedua tahun ini.

Metoda belajarnya, fun dan prestatif. Guru menyediakan suasana yang fun untuk belajar, otomatis anak suka dengan belajar. Begitu pengertian fun yang saya tangkap dari Ibu Dedeh, guru wali kelas Annisa. Di kelas Annisa ada 2 guru untuk 20 orang murid. Guru wali kelas dan guru pendamping yang biasa dipanggil Bunda. Bunda Annisa di sekolah bernama Bunda Seroya, teman bermain anak-anak. Sekarang sedang proses wawancara multiple intelligence untuk pengarahan minat dan bakat anak yang unik. Kerjasama guru dan orangtua untuk kesuksesan anak di sekolah.

Prestatif pun terlihat dari piagam dan piala yang terpajang di administrasi sekolah. Misalnya sekolah berakreditasi A menuju standard Internasional, juga Pemenang Sekolah Sehat untuk Kabupaten Bandung tahun 2010.

 

Untuk ekskul, sekolah bekerjasama dengan pihak luar sekolah yang sudah ahli di bidangnya. Misalnya sepak bola, menggambar, pencak silat, dan sebagainya.

Suasana sekolah masih kental suasana Sunda. Anak saya celingukan kagok berbahasa Sunda. Mayoritas temannya berbahasa Sunda. Tapi so far Annisa enjoy dan sekarang sudah mulai bisa sedikit berbahasa Sunda.

Yang menyenangkan, Annisa tidak merasa belajar di sekolah ini, tapi bermain bersama teman. Belajarnya bisa dimana saja. Kadang di panggung, di saung, atau di sawah. Kadang kelas jadi tempat main bola, belajarnya di panggung. Sistemnya memang moving class. Untuk kelas 1 dan 2 stay di kelas untuk masa peralihan dari TK, begitu kata Bu Imas.

Sekolahnya dari Senin sampai Jum’at, pukul 8 pagi sampai ba’da ashar, sholat ashar di sekolah. Dua kali istirahat, istirahat kedua untuk makan siang dan sholat. Istilah kerennya full day school. Baju seragam hanya 3 hari saja, selebihnya baju bebas bahkan tidak pakai alas kaki pun boleh. Senin, baju kebangsaan SD, putih merah. Selasa, baju olah raga sekolah. Jum’at, seragam pramuka. Murid perempuan setiap hari memakai kerudung. Kalau sedang becek setelah hujan, memakai sepatu boot.

Sekolahnya dikelilingi sawah. Annisa pun sudah hafal proses terjadinya nasi sejak dari padi. Terjadi tanya jawab langsung dengan pak tani. Annisa bercerita bahwa prosesnya seperti ini, sawah dibajak dengan munding (kerbau), setelah dibajak, diratakan lalu ditanam. Padi hijau, menguning, panen, heler, dan jadilah beras. Pelajaran hidup yang tidak ada di buku sekolah ya.

Sekolah ini lumayan berjarak dari rumah. Rumah kami di Jatinangor, Kabupaten Sumedang dan sengaja menyekolahkan anak ke Rancaekek Kabupaten Bandung, berharap Annisa bisa memaksimalkan potensi dan keunikan pribadinya di sekolah ini.

Annisa sudah mendaftar sejak masuk TK B. Uang masuknya 3.100.000 rupiah karena bayar lebih awal mendapat potongan, menjadi 2.850.000 rupiah. Uang bulanannya Rp 280.000 sudah termasuk makan siang. Kegiatan per semester Rp 400.000. Bargain price ya untuk sekolah dengan kualitas ini. Kalau bisa terjangkau kenapa harus mahal. Yang penting anaknya enjoy belajar.

 

Add comment


Security code
Refresh