Sekolah Alam Pelopor

 
 
You are here:: Berita Saatnya Semua Ilmu Terintegrasi Lingkungan
 
 
Saatnya Semua Ilmu Terintegrasi Lingkungan
Senin, 15 Maret 2010 11:36

Dengan kondisi alam yang semakin terdegradasi saat ini, sudah saatnya semua disiplin ilmu pengetahuan dan teknologi dipelajari secara terintegrasi, dengan wawasan tentang pengaruh ilmu tersebut terhadap lingkungan.
Direktur Eksekutif Nasional Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Berry Nahdian Forqan mengatakan, keilmuan di kalangan pelajar dan mahasiswa kini sudah tidak hanya harus seimbang antara pengetahuan umum dan teknologi dan imbasnya terhadap lingkungan. "Sudah bukan harus seimbang lagi, apalagi berdiri sendiri. Namun, semua harus terintegrasi. Semua ilmu pengetahuan harus berperspektif ramah lingkungan," ujarnya seusai seminar sehari "Peran Serta Remaja dalam Berteknologi yang Ramah Lingkungan," di Sekolah St. Angela Bandung, Sabtu (13/3).

Menurut Berry, saat ini kondisi yang ada menunjukkan bahwa pelajar dan mahasiswa sebagai generasi penerus masih mempelajari ilmu pengetahuan dan teknologi, tanpa mengindahkan perspektif lingkungan hidup.

"Kita lihat banjir teknologi terus terjadi dan kalangan pelajar dan mahasiswa menggunakannya secara masif. Di sisi lain, tidak banyak dari mereka yang mempelajari kepentingan lingungan. Alhasil, mereka tidak sadar banyak di antara perangkat teknologi yang mereka gunakan, bisa berdampak buruk terhadap lingkungan. Suatu saat derasnya kemajuan teknologi akan jadi bumerang bagi kita semua," katanya menjelaskan.

Kondisi ini, kata Berry, sudah memprihatinkan. Pelajar dan mahasiswa sebagai generasi penerus seharusnya bisa memilah dan mengadaptasi teknologi yang ramah lingkungan saja.

Berbicara mengenai teknologi yang ramah lingkungan, Berry mengatakan, sebenarnya di negara kita sudah banyak. "Pakar dan peneliti yang memahami teknologi ramah lingkungan juga sudah banyak. Namun, tidak didukung kebijakan pemerintah," ujarnya.

Berry yakin, jika pemerintah mau menerapkan perspektif lingkungan hidup dalam segala kebijakan, maka teknologi yang bisa merusak lingkungan Indonesia bisa ditolak masuk. (A-178)***

Sumber: Pikiran Rakyat, 15/03/2010

 

Add comment


Security code
Refresh