Sekolah Alam Pelopor

 
 
You are here:: Berita Stimulasi Kerja Otak
 
 
Stimulasi Kerja Otak
Minggu, 03 Juni 2012 22:17

 

Pikiran Rakyat Hal. 22                                            Bandung,  Rabu 18 Februari  2009

Belajar di Atas Kolam , Menstimulasi Kerja Otak

SEGALA bentuk sumber daya yang disediakan oleh alam, merupakan limpahan kenikmatan  yang bagi makhluk hidup di muka bumi, seluruhnya.  Hingga manusia hidup damai bersama-sama dengan alam. Alangkah indah bila kedua “kubu” itu bisa berjalan beriringan, dan hal tersebut bias kita lihat di sebuah sekolah dasar (SD) di Bandung, yaitu SD Alam Pelopor atau biasa di singkat SD Apel.

Sekilas SD ini tidak seperti sebuah lembaga pendidikan, malah lebih mirip seperti sebuah vila.  Maklum, Sd ini terletak di tengah sawah dan desain bangunannya menyerupai vila. Tapi jangan salah, Sd ini memang sengaja disandingkan dengan alam, karena alam adalah bagian dari metode pembelajaran siswa di sekolah ini.

Konsep kita back to nature, yang menjadikan alam sebagai media sekaligus sumber belajar anak. Dengan alam mereka bias bereksplorasi dan menstimulus kerja otak, kata Dedi Wahyudi, Ketua Yayasan Pelopor Pengembangan Sumber Daya Manusia Indonesia di ruang kerjanya,Jl. Kaktus Raya No. 100 Bumi Rancaekek Kencana, Kab. Bandung, Rabu (11/2).

Idealnya, sebuah lembaga pendidikan yang berkualitas ditunjang dengan sarana dan prasarana yang berkualitas juga.  Dan SD Apel memiliki itu semua. Di lingkungan sekolah,kita bisa melihat fasilitas seperti saung-saung tempat belajar, kolam ikan, kebun, dan lapangan tempat outbound. Selain itu, tong sampah organic dan anorganik tersebar lengkap dengan tempat cuci tangandi tiap penjuru sekolah.  Fasilitas tersebut dibangun agar para siswa terbiasa untuk peduli terhadap lingkungan sekitar.

“Kita juga membangun mushola, tempat latihan berdakwah, dan manasik haji yang dibangun senyaman mungkin untuk menunjang kegiatan belajar Islam, karena di sini nilai-nilai agama dan cinta lingkungan menjadi prioritas khusus,” ujar Dedi yang biasa dipanggil Pa Haji oleh siswa-siswa di SD Apel.

Dedi bercerita, SD Apel adalah terobosan yang diciptakan untuk meninggalkan pola-pola lama pendidikan yang kini terkesan formal dan umumnya kaku.  Pola ini nantinya akan mengungkung daya analisa dan kreativitas siswa.

“Bila ingin mendidik anak, kita harus mau masuk kedunianya, dan dunia anak itu penuh dengan permainan. Karena itu, metode pembelajaran di sini adalah fun learning yang bertujuan untuk memicu energy positif otak dan menciptakan suasana yang nyaman bagi siswa itu sendiri,” kata Dedi lagi.

Dedi juga menambahkan, salah satu kurikulum di SD Apel adalah contextual learning, program pengembangan pada pelajaran IPA dan Matematika, yang berorientasi pada praktek di alam, seperti berkebun dan memelihara ternak.

“Sering kali KBM  (kegiatan  belajar  mengajar) kita lakukan di atas kolan sambil menaiki getek, atau kadang-kadang siswa kami ajak berjalan di pematang sawah. Selain itu moving class pun dilakukan setiap pergantian mata pelajaran. Ini bertujuan agar siswa tidak jenuh dengan suasana kelas yang formal,” kata Dedi.

Kepala SD Apel, IMAS Maryani mengatakan, sekolah ini hanya menerima 20 siswa setiap angkatan, karena memang setiap angkatan hanya ada satu kelas.

Sekoah yang dianugerahi sebagai Sekolah Berwawasan Lingkungan 2007 oleh Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bandung ini kandang menemui kendala dalam menyususn system KBM yang menarik sekaligus mendidik. “SD dengan konsep ini kan baru, sebelumnya juga tidak ada panduan tentang sekolag alam, jadi kami agak sedikit sulit dalam mengembangkan ide,” ujar  Dedi lagi

 

 

Add comment


Security code
Refresh