Sekolah Alam Pelopor

 
 
You are here:: Berita Proses belajar Gaya SD Apel
 
 
Proses belajar Gaya SD Apel
Selasa, 24 April 2012 00:48

13111665201964860568

PROSES BELAJAR GAYA SD ALAM PELOPOR RANCAEKEK BANDUNG

Bagi seorang siswa, kenyataan yang akan dihadapi saat memasuki sekolah adalah rutinitas sehari-hari duduk di ruang kelas mendengarkan penjelasan dari guru. Tapi realitas akan berbeda jika seorang siswa belajar tidak di ruang kelas, melainkan di tempat-tempat terbuka layaknya di film Dead Poets Society yang di bintangi oleh Robbin Williams.

 

Metode seperti itu sangat efektif untuk menumbuh kembangkan kepekaan seorang siswa, setidaknya metode itu diselenggarakan di SD Alam Pelopor (SD Apel) yang terletak di Jl. Kaktus Raya, Perum Kencana Rancaekek Kabupaten Bandung. Memasuki sekolah, hamparan sawah membentang mengelilingi SD Apel. Bale-bale terisi beberapa pengajar yang tengah berteduh akibat panas terik matahari dengan ditemani bekal makan siang. Di depan bale Panggung Kamotekaran,tempat para siswa menunjukkan bakatnya, merpati turut menemani mereka makan siang.

 

 

Sejak mulai pendiriannya, sekolah ini memulai metode belajar yang lain dari sekolah -sekolah pada umumnya. Saat siswa merasa jenuh dengan dinding kelas, justru siswa SD apel menginginkan waktu lebih di sekolahnya. Pasalnya, mereka terbiasa belajar di ruang-ruang terbuka yang tidak membosankan, misalnya di tengah-tengah sawah, perahu apung di atas kolam ikan dan di kebun-kebun yang tanamannya telah mereka tanam sebelumnya.Dampaknya, para siswa memiliki nilai lebih dalam soal kepercayaan diri serta kepekaan terhadap lingkungan dan rekan-rekannya.

 

 

Wakil Bidang Kesiswaan SD Pelopor, Asep Syarif Hidayat, mengatakan bahwa ide dasar dari pendirian sekolah ini berasal dari keinginan untuk mendobrak paradigma bahwa sekolah selalu di dalam kelas, dan menurutnya, hal itu kurang efektif bagi perkembangan kemampuan mental seorang anak. Dia juga mengatakan bahwa, seringkali anak merasa jenuh dan saat pulang, karena kejenuhannya itu, bukan nilai-nilai pendidikan yang didapat, tapi justru kejenuhan dan tidak jarang membuat anak malas untuk sekolah.

 

Selain ide itu, pendiri sekolah, Dedi Wahyudi, seorang trainer, menginginkan bahwa konsep training tidak hanya efektif selama beberapa hari, tapi justru trus dilakukan setiap hari, hingga akhirnya ia menemukan bahwa konsep seperti itu bisa dilaksanakan melalui sistem belajar mengajar dalam dunia pendidikan, tutur Asep.

 

Selebihnya, Asep mengatakan bahwa SD Apel ini memprioritaskan siswa dalam 4 hal, yakni, sains, agama, character building dan kemampuan bahasa asing. Karena melalui 4 hal itu, paling tidak siswa punya bekal untuk bertahan di tengah perkembangan zaman yang maju pesat. Dalam bidang sains misalnya,tidak hanya teori yang diberikan, tapi mereka langsung mengamati gerak alam di sekitarnya. Sementara itu, kurikulum pendidikannya pun memberikan kebebasan bagi setiap siswa untuk berpendapat dalam setiap hal, baik itu melalui bahasa asing maupun dalam bahasa Indonesia, dan itu dilakukan di hadapan umum. Hal itu dilakukan semata-mata untuk meningkatkan kepercayaan diri siswa, kata Asep.

 

Ditambahkan juga oleh Asep, dalam pelajaran sains, seringkali siswa mendapat tugas untuk menanam tanaman seperti cabe dan kangkung, setiap musim panen, para siswa bersemangat untuk menuai panen kemudian menjual hasil panennya pada setiap orang tua murid. Selain itu, para siswa umumnya berasal dari Rancaekek, Cicalengka hingga Majalaya, kata Asep.

 

Selain itu, dikatakan juga oleh Cucu Khotimah, pengajar sains, “setiap harinya, kegiatan belajar tidak banyak teori di ruangan kelas, seringkali prosesnya berlangsung di sekitar sekolah, seperti di perahu apung di kolam ikan, sawah dan ruang terbuka lainnya. Pernah ketika proses berlangsung, seorang siswa terjatuh ke kolam ikan hingga pakaiannya basah,” kata Cucu. Dalam hal pelajaran agama, seringkali proses belajar mengajar bersifat dogmatis,tapi, Dede Tajul Arifin, pengajar pendidikan agama mengatakan bahwa dirinya memberikan kebebasan pada siswa untuk berpendapat dan tidak memberikan tekanan pada siswa terhadap sesuatu.

 

Dina Sulaeman, orang tua murid kelas 5, Kirana Sulaeman, penulis cilik yang telah menulis buku Two Beautiful Princess dan My Persian Rainbow yang diterbitkan oleh Mizan mengaku bahwa kurikulum di SD Apel menyenangkan dan tidak padat hingga tidak membuat anak tertekan. Selain itu, ia juga mengatakan bahwa anaknya lebih berani bicara di depan umum dan jika libur datang, anaknya sangat menunggu sekolah di SD tersebut.

 

Add comment


Security code
Refresh