Sekolah Alam Pelopor

 
 
You are here:: Berita BSE
 
 
BSE
Selasa, 14 Desember 2010 14:09
Selasa, 14 Desember 2010
Ikapi Minta Pemerintah Tinjau Ulang BSE
DIPATI UKUR,(GM)-
Ikatan Penerbit Indonesia (Ikapi) berharap pemerintah meninjau ulang kebijakan buku sekolah elektronik (BSE) untuk pelajar. Selain mengakibatkan menurunnya produksi penerbitan, buku masih lebih efektif bagi pelajar yang berada di wilayah terpencil.

"Ikapi sebetulnya sangat mendukung program penyediaan buku secara mudah dan murah. Namun tolong jangan sampai merugikan sisi yang lainnya, yakni penulis dan penerbit," ujar Ketua Umum Ikapi, Lucya Andam Dewi kepada wartawan dalam acara Pesta Buku Diskon 2010 di Aula Sanusi Hardjadinata Universitas Padjadjaran (Unpad), Jln. Dipati Ukur, Senin (13/12).

Menurut Lucya, program BSE yang diluncurkan sejak 2007 membuat sejumlah penerbit kehilangan order untuk memproduksi buku sekolah. Beberapa di antaranya terpaksa mengurangi jumlah karyawan, bahkan ada yang sampai gulung tikar.

"Para penulis buku pelajaran sekolah pun banyak yang mengadu pada kami. Karena pembelian copyright (hak cipta) penulis untuk buku tersebut (BSE, red) dibeli untuk satu kali dan dihargai Rp 3 juta. Padahal penggunaannya hingga 15 tahun ke depan," katanya

Lucya mengungkapkan, usul peninjauan BSE sebenarnya sudah diajukan Ikapi kepada pemerintah. Usulan tersebut antara lain memuat tentang rumusan apa yang diinginkan penerbit dan penulis yang dihubungkan dengan rencana kerja pemerintah, salah satunya Kementerian Pendidikan Nasional.

Pada kesempatan yang sama, Ketua Ikapi Jabar, Anwaruddin mengatakan, Ikapi juga telah menyampaikan usulan kepada Menteri Perindustrian dan Perdagangan terkait tingginya harga kertas di Indonesia dibandingkan negara lain.

Anwaruddin mencontohkan, pemerintah India memberikan harga khusus kepada penerbit yang akan menerbitkan buku pelajaran. "Kata siapa kami para penerbit tidak memberikan buku murah pada siswa? Melalui pameran buku dengan diskon hingga 50% pun sebetulnya bisa. Yang membuat mahal buku berarti siapa? Tentunya ada di pemegang regulasi," tuturnya.

Ia berharap, berbagai usulan yang disampaikan kepada Mendiknas hingga Menperindag dapat memberikan solusi yang tidak menjatuhkan salah satu pihak. Apalagi jumlah buku yang dikeluarkan penerbit atau yang ditulis tercatat hanya 12.000 judul buku setiap tahun.

"Angka itu tidak sebanding dengan populasi warga negara ini yang telah mencapai 230 juta orang. Ini harusnya dijadikan evaluasi oleh pembuat regulasi. Dengan kondisi seperti ini jangan heran jika jumlah judul yang dikeluarkan masih minim karena tentu saja penulis malas mengeluarkan karyanya," katanya.

Sementara itu, Pesta Buku Diskon 2010 yang akan berakhir Jumat (17/12) diikuti oleh 41 penerbit. Menurut Anwaruddin, kegiatan sengaja diadakan di kampus Unpad, selain berkaitan dengan Dies Natalis Unpad, juga diharapkan dapat membantu peran Unpad sebagai perguruan tinggi yang berwawasan literat.

"Sehingga program sinergi ini dirasakan sangat tepat dan selaras dengan program pemerintah untuk mencerdaskan bangsa melalui buku," tuturnya. (B.107)**
 

Add comment


Security code
Refresh