Sekolah Alam Pelopor

 
 
You are here:: Berita Sekolah Inklusi pun Bisa Berprestasi
 
 
Sekolah Inklusi pun Bisa Berprestasi
Jumat, 09 April 2010 17:08

Sekolah yang berada di tingkat paling rendah adalah sekolah yang menerapkan tes masuk pada siswanya. Sementara sekolah yang berada di tingkat tertinggi adalah sekolah yang terbuka menerima siswa, baik itu yang dianggap pintar, dianggap bodoh, nakal, cacat fisik, maupun cacat mental. (Munif Khotib, "Sekolahnya Manusia")

Tak banyak sekolah reguler di Jawa Barat yang menerima anak berkebutuhan khusus (ABK) atau disebut juga sekolah inklusi. Selain membutuhkan tenaga pengajar khusus, menerima ABK juga sering kali dianggap menghambat dalam mengejar "target prestasi" sekolah yang masih terpaku pada patokan angka atau nilai.

Anggapan itu dicoba ditepis oleh SMA Mutiara Bunda. Sekolah yang dibuka tahun 2006 ini menerima anak berkebutuhan khusus secara terbuka. Setiap kelasnya, terdapat maksimal tiga orang anak berkebutuhan khusus.

"Saat masuk mereka melewati psikotes dulu, tetapi bukan untuk menentukan masuk atau tidak melainkan untuk mengetahui kemampuan masing-masing. Bila hasilnya si anak berkebutuhan khusus itu hanya mampu mengikuti 50 persen standar nasional, berarti yang 50 persen kita buatkan kurikulum khusus untuknya, begitu juga yang lainnya ada standar masing masing," ujar Kepala Sekolah SMA Mutiara Bunda, Muhammad Ariefianto saat ditemui di Laboratorium Sains SMA Mutiara Bunda Jln. Padang Golf Kecamatan Arcamanik Bandung, Kamis (8/4).

Meski demikian, kata Arif, sekolahnya berupaya untuk mengembangkan prestasi siswanya. Selain menjalankan kurikulum sesuai dengan standar nasional, mereka juga didorong untuk melakukan penelitian yang kemudian dipresentasikan hasilnya di depan dewan penguji.

Usaha ini pun membuahkan hasil, Mutiara Bunda merupakan sekolah inklusi pertama dari Indonesia yang mengikuti ajang lomba sains tingkat dunia. Tahun ini, Mutiara Bunda akan mengirimkan satu tim yang terdiri atas Fauqia Tambunan (16), Bening Embun Pagi (16), dan Alan Suherman (16), untuk mengikuti International Conference of Young Scientist (ICYST) di Bali tanggal 13-17 April 2010. Mereka akan bersaing dengan perwakilan dari 12 negara lainnya termasuk dari Benua Eropa dan Amerika.

Salah satu dari mereka, Fauqia Tambunan, mengidap gangguan syaraf untuk gerak motorik atau yang disebut Cerebral Palsy (CP). Namun, hal itu tidak mengurangi rasa percaya diri dara asal Cianjur tersebut. Siswi kelas XI yang akrab dipanggil Kia tersebut bahkan didaulat untuk menjadi pembicara yang tentunya harus menggunakan bahasa Inggris.

Mereka akan mempresentasikan hasil penelitiannya yang berjudul "Uji Coba Agar-agar Rumput Laut Sebagai membran pada Proses Pemurnian Air Laut Pantai Sayangheulang Menggunakan Metode Osmosis Balik di Kecamatan Cikelet Kabupaten Garut Jawa Barat". Bila biasanya penyulingan air laut menggunakan bahan anorganik, pada penelitian kali ini mereka menggunakan rumput laut yang alami.

Menurut Kia, riset ini dilakukan setelah melihat kondisi masyarakat yang mulai kekurangan air bersih untuk dikonsumsi. Padahal, Indonesia dikenal sebagai salah satu negara yang memiliki garis pantai terpanjang di dunia. Lalu apa yang menjadi keunggulan karya ilmiah mereka dibandingkan dengan peserta lainnya? "Alat ini simple, tetapi banyak berguna," ujar Kia singkat. (Tia Komalasari/"PR"/Lingga Sukatma Wiangga)***

Penulis:


 

Add comment


Security code
Refresh